Knowledge is Power

Just another WordPress.com weblog

Barack Obama

Barack Hussein Obama II (pengucapan Inggris: [bəˈrɑːk hʊˈseɪn oʊˈbɑːmə]; lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961; umur 47 tahun) adalah seorang politisi Amerika Serikat dan pemenang Pemilu Presiden 2008. Sebagai Presiden-terpilih AS, ia akan mulai menjabat secara resmi sebagai Presiden AS ke-44 pada 20 Januari 2009. Saat ini ia adalah Senator Junior dari Illinois.

Latar belakang

Obama adalah orang Afrika-Amerika pertama yang dicalonkan oleh sebuah partai politik besar Amerika untuk menjadi presiden.[1] Lulusan Universitas Columbia dan Sekolah Hukum Harvard; di sana ia menjabat sebagai presiden Harvard Law Review, Obama bekerja sebagai koordinator masyarakat dan menjabat sebagai pengacara hak sipil sebelum menjadi Senat Illinois selama tiga kali mulai 1997 hingga 2004. Ia mengajar hukum konstitusional di Sekolah Hukum Universitas Chicago sejak 1992 hingga 2004. Setelah kegagalan meraih kursi di Dewan Perwakilan AS tahun 2000, ia mengumumkan kampanyenya untuk Senat AS bulan Januari 2003. Setelah kemenangan Maret 2004, Obama menyampaikan catatan kuncinya pada Konvensi Nasional Demokrat Juli 2004. Ia terpilih sebagai Senat pada November 2004 dengan 70 persen suara.

Sebagai anggota minoritas Demokrat di Kongres ke-109, ia membantu membuat undang-undang yang mengatur senjata konvensional dan mempromosikan akuntabilitas publik dalam penggunaan dana federal. Ia juga melakukan perjalanan resmi ke Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Selama Kongres ke-110, ia membantu membuat UU mengenai lobi dan kecurangan pemilihan, perubahan iklim, terorisme nuklir, dan perawatan bagi personil militer AS yang pulang. Obama mengumumkan kampanye presidennya pada Februari 2007, dan dicalonkan pada Konvensi Nasional Demokrat 2008 dengan senator Delaware, Joe Biden sebagai pasangan kampanye. Dan Pada tanggal 4 November 2008 Barack Obama sukses mengalahkan rivalnya senator John Mccain dari partai republik dan menjadi presiden amerika ke 44 dan orang kulit hitam pertama sebagai presiden Amerika serikat.

Kehidupan awal dan karir

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kehidupan awal dan karir Barack Obama

Barack Obama lahir di Kapi’olani Medical Center for Women & Children[2] di Honolulu, Hawaii, dari pasangan Barack Hussein Obama, Sr., seorang Kenya berkulit hitam dari Nyang’oma Kogelo, Distrik Siaya, Kenya, dan Ann Dunham, seorang Amerika berkulit putih dari Wichita, Kansas.[3] Orangtuanya bertemu ketika bersekolah di Universitas Hawaii, tempat ayahnya belajar dengan status sebagai murid asing.[4] Keduanya berpisah ketika Obama berusia dua tahun dan akhirnya bercerai..[5] Ayah Obama kembali ke Kenya dan melihat anaknya untuk terakhir kalinya sebelum meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tahun 1982.[6]Setelah bercerai, Dunham menikahi Lolo Soetoro, dan keluarganya pindah ke Indonesia tahun 1967. Obama kemudian bersekolah di sekolah lokal di Jakarta hingga ia berusia 10 tahun. Saat ini Obama masih dapat berbicara bahasa Indonesia yang pas-pasan.

Ia kembali ke Honolulu untuk tinggal bersama kakek dan neneknya dan belajar di Sekolah Punahou sejak kelas lima tahun 1971 hingga lulus SMA pada 1979.[7] Ibu Obama kembali ke Hawaii tahun 1972 selama beberapa tahun dan kemudian ke Indonesia untuk menyelesaikan kerja lapangan untuk disertasi doktoral. Ia meninggal karena kanker rahim tahun 1995.[8]Sebagai seorang dewasa, Obama mengakui bahwa ketika SMA ia menggunakan mariyuana, kokain, dan alkohol, yang ia jelaskan pada Forum Sipil Presiden 2008 sebagai kesalahan moralnya yang terbesar.[9][10]Setelah SMA, Obama pindah ke Los Angeles lalu ia belajar di Perguruan Tinggi Occidental selama dua tahun.[11] Ia kemudian dipindahkan ke Universitas Columbia di New York City, dan kemudian ia lulus dalam bidang pengetahuan politik dengan kelebihan pada hubungan internasional.[12] Obama lulus dengan B.A. dari Columbia tahun 1983, kemudian bekerja selama setahun di Business International Corporation[13] dan kemudian di New York Public Interest Research Group.[14][15]

Barack Obama dibesarkan oleh ibunya, Ann Dunham.

Setelah empat tahun di New York City, Obama pindah ke Chicago, lalu ia menjabat sebagai direktur Developing Communities Project (DCP), sebuah perkumpulan masyarakat berbasis gereja yang sebenarnya terdiri dari delapan paroki Katolik di Roseland Raya (Roseland, West Pullman, dan Riverdale) di South Side, Chicago, dan bekerja di sana selama tiga tahun mulai Juni 1985 hingga Mei 1988.[14][16] Selama menjabat sebagai direktur DCP, stafnya bertambah dari satu menjadi tiga belas pendapatan per tahunnya meningkat dari $70.000 menjadi $400.000, dengan keberhasilan meliputi membantu membuat program pelatihan kerja, program pelatihan persiapan perguruan tinggi, dan organisasi hak penjual di Altgeld Gardens.[17] Obama juga bekerja sebagai konsultan dan instruktur untuk Gamaliel Foundation, sebuah institut perkumpulan masyarakat.[18] Di pertengahan 1988, ia untuk pertama kalinya mengunjungi Eropa selama tiga minggu dan lima minggu di Kenya, dan ia banyak bertemu saudara Kenya-nya untuk pertama kalinya.[19]Obama masuk Sekolah Hukum Harvard pada 1988. Pada akhir tahun pertamanya, ia dipilih, menurut kelasnya dan kompetisi menulis, sebagai editor Harvard Law Review.[20] Bulan Februari 1990, di tahun keduanya, ia terpilih menjadi presiden Law Review, sebuah posisi sukarela penuh waktu yang berguna sebagai pimpinan editor dan pemantau 80 editor Law Review.[21] Pemilihan Obama sebagai presiden Law Review berkulit hitam pertama diketahui secara luas dan diikuti oleh beberapa profil yang panjang.[21] Pada musim panas, ia kembali ke Chicago untuk bekerja sebagai associate musim panas di law firm Sidley & Austin tahun 1989 dan Hopkins & Sutter tahun 1990.[22] Setelah lulus dengan magna cum laude Juris Doctor (J.D.)[23][24] dari Harvard tahun 1991, ia kembali ke Chicago.[20]Publisitas dari pemilihannya sebagai presiden Harvard Law Review berkulit hitam pertama membawanya pada kontrak penerbitan dan pembuatan buku mengenai hubungan ras.[25] Dalam usaha untuk merekrutnya ke fakultas mereka, Sekolah Hukum Universitas Chicago menyediakan Obama beasiswa dan kantor untuk membuat bukunya.[25] Ia awalnya berencana menyelesaikan buku tersebut dalam satu tahun, tapi ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama setelah buku ini berubah menjadi memoir pribadi. Untuk bekerja tanpa gangguan, Obama dan istrinya, Michelle, berlibur ke Bali dan ia menulis bukunya selama beberapa bulan. Manuskrip tersebut akhirnya diterbitkan pada pertengahan 1995 dengan judul Dreams from My Father.[25]Obama memimpin Project Vote Illinois mulai April hingga Oktober 1992, dengan registrasi pemilih dnegan sepuluh staf dan tujuh ratus sukarelawan; tujuannya berhasil dengan mendaftarkan 150.000 dari 400.000 orang Afrika-Amerika di negara bagian itu, sehingaga Crain’s Chicago Business menempatkan Obama dalam daftar “40 under Forty” tahun 1993.[26][27]

Kanan ke kiri: Barack Obama dan Maya Soetoro dengan ibunya Ann Dunham dan kakeknya Stanley Dunham di Hawaii (awal 1970-an).

Berawal tahun 1992, Obama mengajarkan hukum konstitusional di Sekolah Hukum Universitas Chicago selama dua belas tahun, menjadi yang pertama dikelompokkan sebagai Penceramah sejak 1992 hingga 1996, dan kemudian sebagai Penceramah Senior sejak 1996 hingga 2004.[28]Ia juga, tahun 1993, bergabung dengan Davis, Miner, Barnhill & Galland, sebuah firma hukum dengan dua belas pengacara yang berpengalaman dalam litigasi hak-hak sipil dan pembangunan ekonomi masyarakat, dan ia adalah seorang associate selama tiga tahun sejak 1993 hingga 1996, kemudian of counsel mulai 1996 hingga 2004, dengan lisensi hukumnya berakhir tahun 2002.[14][29][30]Obama adalah anggota pendiri dewan direktur Public Allies tahun 1992, mengundurkan diri sebelum istrinya, Michelle, menjadi direktor eksekutif pendiri Public Allies Chicago di awal 1993.[14][31] Ia menjabat dari 1993 hingga 2002 pada dewan direktur Woods Fund of Chicago, yang pada 1985 telah menjadi yayasan pertama yang mendanai Developing Communities Project, dan juga sejak 1994 hingga 2002 pada dewan direktur The Joyce Foundation.[14] Obama bekerja pada dewan direktur Chicago Annenberg Challenge pada 1995-2002, sebagai presiden pendiri dan pimpinan dewan direktur sejak 1995-1999.[14] Ia juga bekerja pada dewan direktur Chicago Lawyers’ Committee for Civil Rights Under Law, Center for Neighborhood Technology, dan Lugenia Burns Hope Center.[14]

Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Barack_Obama

November 7, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

NAPOLEON BONAPARTE

Napoleon beralih ke artikel ini. Untuk kegunaan lainnya, lihat Napoleon (disambiguasi)

Kaisar Napoleon Bonaparte (15 Agustus 17695 Mei 1821) dilahirkan di pulau Korsika dari sebuah keluarga bangsawan lokal dengan nama Napoleone di Buonaparte (dalam bahasa Korsika, Nabolione atau Nabulione). Dikemudian hari ia mengadaptasi nama Napoléon Bonaparte yang lebih berbau Perancis.

Karir militer

Lukisan terkenal Napoleon Melintasi Alpen, karya Jacques-Louis David.

Ia menjadi siswa di Akademi Militer Brienne tahun 1779 pada usia 10 tahun, kecerdasannya membuat Napoleon lulus akademi di usia 15 tahun. Karir militernya menanjak pesat setelah dia berhasil menumpas kerusuhan yang dimotori kaum pendukung royalis dengan cara yang sangat mengejutkan: menembakkan meriam di kota Paris dari atas menara. Peristiwa itu terjadi tahun 1795 saat Napoleon berusia 26 tahun. Berbagai perang yang dimenangkannya diantaranya melawan Austria dan Prusia.

Masa kejayaan

Pada masa kejayaannya, Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh dataran Eropa baik dengan diplomasi maupun peperangan. Diantaranya adalah Belanda dengan diangkatnya adiknya Louis Napoleon,Spanyol dengan diangkatnya Joseph Napoleon, Swedia dengan diangkatnya Jenderal Bernadotte sebagai raja yang kemudian melakukan pengkhianatan, sebagian besar wilayah Italia yang direbut dari Austria dan Polandia dengan diangkatnya Joseph Poniatowski sebagai wali negara Polandia.

Pernikahan

Menikahi seorang janda bernama Joséphine de Beauharnais, kehidupan perkawinan Napoleon penuh dengan ketidakpercayaan dan perselingkuhan diantaranya perselingkuhan Napoleon dengan gadis Polandia Maria Walewska sampai akhirnya Joséphine menjadi istri yang setia. Karena usianya yang lebih tua, Joséphine tidak memberikan keturunan pada Napoleon yang kemudian diceraikannya. Kemudian menikah lagi dengan Putri Kaisar Austria Marie Louise putri dari Kaisar Francois I yang mengikat persekutuan Austria dan Perancis yang dilakukan Kaisar Austria atas nasihat perdana menteri Matternich untuk menyelamatkan negaranya. Pernikahan itu berakhir dengan kekalahan Napoleon yang pertama dengan jatuhnya kota Paris akibat diserang Rusia, Austria dan Prusia serta dibuangnya Napoleon ke pulau Elba. Marie Louise sendiri dibawa pulang oleh ayahnya ke Wina.

Kemenangan dan kekalahan

Bonaparte Before the Sphinx, (1868) dilukis oleh Jean-Léon Gérôme, Hearst Castle

Namun tidak semua peperangan di Eropa dimenangkannya. Kegagalannya menghadapi gerilyawan di Spanyol. Kekalahan pada pertempuran laut di Trafalgar antara armada Perancis-Spanyol yang dipimpin oleh Admiral Villeneuve dengan armada Britania Raya yang dipimpin oleh Laksamana Nelson meskipun Nelson gugur dalam pertempuran ini (terkena tembakan sniper Perancis). Kegagalan dalam kampanye di Mesir yang akibatnya berhadapan dengan kekuatan Britania, Mesir dan Turki. Kegagalan dalam menyerang Rusia karena ketangguhan dan kecerdikan strategi Jendral Kotusov dan Tsar Aleksandr I dalam menghadapi pasukan Perancis dengan memanfaatkan musim dingin Rusia yang dikenal mematikan serta pengkhianatan Raja Swedia Jendral Bernadotte. Strategi Rusia dalam hal ini adalah membakar kota Moskwa ketika Napoleon berhasil menaklukkan kota itu dan mengharapkan sumber logistik baru. Kekalahan di Rusia diulangi lagi oleh Adolf Hitler dari Jerman pada Perang Dunia II. Kekalahan yang mengakhiri kariernya sebagai Kaisar Perancis setelah melarikan diri dari Pulau Elba dan memerintah kembali di Perancis selama 100 hari adalah kekalahan di Waterloo ketika berhadapan dengan kekuatan Inggris yang dipimpin Duke of Wellington, Belanda oleh Pangeran van Oranje dan Prusia yang dipimpin oleh General Blücher serta persenjataan baru hasil temuan Jendral Shrapnel dari Inggris, yang mengakibatkan dia dibuang ke Pulau Saint Helena sampai wafatnya.

Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Napoleon_Bonaparte

November 7, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Syariat Islam

Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.

Terkait dengan susunan tertib Syari’at, Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.

Dengan demikian perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup beribadahnya kepada Allah itu dapat disederhanakan dalam dua kategori, yaitu apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara’ dan perkara yang masuk dalam kategori Furu’ Syara’.

  • Asas Syara’

Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadits. Kedudukannya sebagai Pokok Syari’at Islam dimana Al Quran itu Asas Pertama Syara’ dan Al Hadits itu Asas Kedua Syara’. Sifatnya, pada dasarnya mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada, sejak kerasulan Nabi Muhammad saw hingga akhir zaman, kecuali dalam keadaan darurat.

Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang memungkinkan umat Islam tidak mentaati syari’at Islam, ialah keadaan yang terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin, dan keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya, demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Jika keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syari’at yang berlaku.

  • Furu’ Syara’

Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. Kedudukannya sebaga Cabang Syari’at Islam. Sifatnya pada dasarnya tidak mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima sebagai peraturan / perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya.

sumber : wikipedia

November 7, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Politik dan Media

by : Ramadhan Pohan

KETERLIBATAN media di dalam politik sejak dulu menimbulkan perdebatan, termasuk di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, semua jenis media terlibat dalam urusan kekuasan, dunia pengaruh-memengaruhi. Koran, radio dan televisi ikut-ikutan dalam politik. Ia bisa dalam bentuk peliputan, arah pemberitaan dan editorial. Tidak hanya dalam perebutan kursi Senat atau Kongres, tapi juga pemilihan wali kota, gubernur dan presiden. Kendati dalam pemberitaan keseharian, keterlibatan itu mudah terendus, dalam ajang pemilihan itu lebih kasat mata lagi. Tengok saja pilpres sekarang, media Amerika, yang notabene bukan media parpol, terbelah tajam antara pro Barack Obama dan yang pro John McCain.

Perbandingan dukungan media antarkedua capres itu sangat tajam, situasi terakhir Obama jauh di atas angin. Jika media jadi ukuran popularitas dan melihat penerimaan atau apresiasi publik, maka trend kemenangan sudah di tangan Obama. Kepastian mantan siswa SD di Menteng Jakarta ini menjadi orang nomor satu di Oval Office Gedung Putih tinggal menunggu waktunya saja.

Kita sering dengar ungkapan “Jangan main-main dengan media”. Di satu sisi, maksudnya segala sesuatu keburukan tidak akan berdampak apa-apa jika media tidak tahu atau juga tidak memberitakan. Bisa pula berarti bahwa baik-buruk, hitam-putih, bulat-lonjong politikus, pesohor atau sesuatu itu, ada di tangan media. Betapa powerful-nya media, semua sudah jelas.

Dunia dan citra begitu cepat jungkir balik, hari ini hero besok mendadak zero. Sekarang tokoh yang dipuja, besoknya dicerca. Kini seolah dekat dan sahabat, besoknya sudah dilaknat. Tengok saja Sarah Palin, cawapresnya Republikan yang sepekan pascapencawapresan menaikkan popularitas McCain, tapi kini malah terpuruk gara-gara skandal politik lokalnya terendus media. Rudi Giuliani babak-belur namanya dihajar koran The New York Times, berdampak pada kekalahan mantan wali kota New York City itu merebut tiket capres Republikan Februari lalu. Pengamat di Amrik mengatakan, serangan koran jauh lebih sadistis dan mematikan dibandingkan kampanye negatif atau kampanye hitam sekalipun dari lawan-lawan politik formal.

Richard Benedetto, mantan wartawan yang ngepos di White House dan kini pengajar jurnalisme dan ilmu politik di American University, Washington DC mengangkat dua persoalan seputar perlibatan media dalam pendukungan politik (endorsement). Pertama, kenapa media ikut jadi aktor dalam pertarungan pemilihan atau pilpres, daripada memosisikan diri sebagai pengamat, investigator dan analis? Kedua, kenapa media berpikir harus “mendidik” para pemilih lewat endorsement? Di sini media ingin masyarakat menjatuhkan pada pilihan yang benar, atau setidak-tidaknya memandu publik supaya tidak salah-pilih kandidat.

Jadi dari posisi media yang “tanpa kepentingan”, netral, pengamat dan penginterpretasi obyektif kini beralih pada posisi mengarahkan pemilih “dari kegelapan menuju yang terang”. Media mendidik, mengabarkan masyarakat atau pemilih tentang semua hal yang perlu didengar, diketahui dan kemudian dilaksanakan pemilih. Termasuk mengenai siapa yang harus dicontreng namanya di bilik suara.

Jika di negeri embahnya demokrasi, pendukungan politik sah dan lazim dilakukan media, apakah hal sama bisa dilakukan di Tanah Air? Dari sudut pandang tertentu sikap “We-know-better-than-you” lebih relevan di Indonesia, terkait tingkat pemerataan pendidikan kita lebih rendah dibandingkan Amrik. Dari sudut lain, media di AS juga tidak bisa sembarangan membodohi apalagi berbohong tentang informasi yang disampaikannya kepada publik.

Menurut saya, intinya terletak pada integritas, ya para reporternya. Artinya, independensi bisa ditanggalkan, sedangkan integritas adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar.Ya para petinggi redaksinya, ya medianya itu sendiri. Independensi buta yang menolak sikap pemihakan terkadang mencelakakan dan naif. Siapa bilang independensi lebih mulia dibandingkan integritas?

November 3, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Mulut

by : N. Syamsuddin CH. Haesy
MAKAN malam baru saja dimulai ketika aneka hidangan disiapkan pelayan, pada jamuan makan di sebuah hotel, beberapa waktu berselang. Teman baik kami menjamu, ia ingin membayar kangen karena sudah terlalu lama tak sua. Sambil berbincang tentang banyak hal, termasuk bisnis dan politik, secara otomatis — dengan geraknya yang harmonis — jari-jemari menghantarkan sendok, membawa santapan ke dalam mulut.Perlahan saya saksikan mulut salah seorang sobat perempuan yang duduk persis di depan saya. Mulut yang indah, dan semakin indah dipandang ketika sambil mengunyah ia masih sempat memulas senyum sekulum.

Ketika makan usai, kami masih melanjutkan dengan cengkerama melintas waktu. Sampai tiba saat ke toilet, dan tak sengaja menatap wajah di cermin, saya terkejut melihat sesuatu yang berubah. Mulut saya… ya, mulut saya. Saya pandangi beberapa saat.

Pikiran saya terusik untuk bersoal tentang mulut, begitu saya kembali ke tempat duduk, dan menyaksikan mulut sobat saya yang indah itu. Tapi, bagaimana sesungguhnya mulut kita?

Tiba-tiba saya teringat bagaimana kita harus berkumur berulang-ulang mengikuti putaran waktu setiap hari.

Ooo… ternyata kita memang harus banyak berkumur. Membersihkan mulut dari segala santapan yang boleh jadi — tanpa disadari — termasuk santapan yang diharamkan Allah. Kita perlu rajin berkumur, untuk membersihkan setiap rongga mulut dari kebusukan yang ter­simpan di dalamnya. Lantas, mengontaminasi kata, yang dikunyah, dan di­hamburkan begitu saja saat ber­cakap, marah, atau saat mengucapkan sesuatu yang tak sesuai dengan isi hati dan laku perbuatan.

Benar, kata sobat saya yang mulutnya elok, kita harus berkumur, membersih­kan mulut, lantaran di dalamnya bertimbun aneka aksara, kata, kalimat, dan kemudian menjadi hujjah yang acap melukai dan merendahkan banyak orang.

Mulut manusia seringkali menjadi tempat ber­campur­-aduknya segala hal yang kontradiktif satu dengan lainnya. Karena kebajikan bisa diolah bersamaan dengan keburukan, di mulut yang sama. Aneka aksara yang bermakna kebaikan dan ke­burukan, bisa dirangkai menjadi kata, kalimat, pujian, hinaan, makian, dan bahkan hujjah kabir, kapan saja, di mana saja, dan bagi siapa saja. Mungkin hanya dibedakan oleh dimensi ruang dan waktu, yang menegaskan posisi di mana mulut berada, dan bila mengekspresikan apa?

Sering tanpa disadari mulut kita sedemikian produktif memproduksi ghibah, buhtan, dan fitnah. Seringkali tanpa disadari mulut kita telah mengubah kata menjadi sembilu, belati, parang, dan panah yang menghunjamkan atau menorehkan luka di banyak hati manusia. Bahkan, sadar atau tak sadar, mulut kita telah menjadi alat pembunuh karakter bagi siapa saja. Dan kita baru menyadarinya ketika banyak korban tergeletak, terampas haknya dalam memperoleh kebajikan.

Makan malam itu usai. Saya segera bergegas pergi, sambil membawa berbagai kesan tentang mulut. Ketika tiba di rumah, saat berdiri di depan cermin, saya pandangi lagi mulut saya.

Ohh… Allah, ampuni hamba. Sungguh malu hamba ini. Sudah terlalu sering, mulut ini hamba pergunakan untuk menebar kata rayuan, sehingga perempuan-perempuan berhati bening, yang wajahnya dibalut keikhlasan dan kepasrahan, tersaruk dan terantuk, menyatakan cinta. Lalu kecewa.

Ohh… Allah, ajarkan hamba berkumur, membersihkan mulut ini, dengan kesadaran insaniah, berlandas tauhid Ilahiah, dengan akhlak karimah. Ooh… Allah, ajarkan hamba memberi makna terhadap mulut hamba, agar hamba terselamatkan dari penjara apinya di akhirat nanti. Mohon selamatkan hamba dari bahaya mulut, karena benar kata orang tua: mulutmu harimaumu!

November 3, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Kerjasama Angkatan Bersenjata Indonesia dan Vietnam terus meningkat

31-10-2008

Hubungan dan kerjasama angkatan bersenjata Indonesia dan angkatan bersenjata Vietnam terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan hubungan militer kedua negara terlihat dari kunjungan timbal balik yang dilakukan oleh petinggi angkatan bersenjata kedua negara. Hal itu juga merupakan cermin dari peran aktif yang diambil oleh angkatan bersenjata Indonesia dalam ikut menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan di berbagai belahan dunia.
Sebagai bukti kedekatan hubungan angkatan bersenjata kedua negara, dua pejabat tinggi angkatan bersenjata Vietnam akan berkunjungan ke Indonesia untuk lebih memperkuat hubungan angkatan bersenjata kedua negara.

Demikian antara lain dikemukakan oleh Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, Pitono Purnomo saat memberikan sambutan pada peringatan HUT TNI ke-63 pada 28 Oktober 2008 di Hanoi.

Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Indonesia tidak hanya menjalin kerja sama dan hubungan yang bersahabat dengan angkatan bersenjata Vietnam, tetapi angkatan bersenjata Indonesia juga menjalin hubungan yang sama dengan angkatan bersenjata negara-negara lain dalam rangka membangun rasa saling percaya.
Ditegaskan oleh Dubes, bahwa “Dalam usianya yang ke-63, Tentara Nasional Indonesia bersama rakyat Indonesia telah melewati banyak tantangan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan dalam mempertahankan keutuhan wilayah dan persatuan Indonesia.”
Hadir pada acara tersebut Deputy Chief of General Staff Angkatan Bersenjata Vietnam Letnan Jenderal Tran Quang Khue, para Atase Pertahanan dan kalangan diplomatik setempat.
Letnan Jenderal Tran Quang Khue menyatakan, bahwa Vietnam dan Indonesia memiliki kesamaan dalam sejarah dan budaya. Kondisi ini merupakan dasar yang sangat baik untuk memperkuat dan meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara. Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara ASEAN pertama yang menempatkan Atase Pertahanan di Vietnam.
Ia menilai bahwa hubungan tradisional yang diperkuat oleh “Joint Declaration on the Framework of Friendly and Comprehensive Cooperation in the 21st Century” yang ditandatangani oleh pejabat tinggi kedua negara telah mendorong dan memperkuat hubungan kedua negara di berbagai bidang, termasuk dalam kerja sama militer. (Sumber: KBRI Hanoi).Ss

November 1, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Anggaran Pendidikan Perlu Pengawasan Berkelanjutan

FRAKSI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), mengingatkan, anggaran pendidikan perlu pengawasan berkelanjutan. Hal tersebut, menurut Fraksi PPP yang diketuai H.Syaifullah Tamliha itu, agar dana pendidikan yang kali ini cukup besar tepat guna dan tepat sasaran, demikian dilaporkan, Sabtu (1/11). “Dengan tepat guna dan tetap sasaran tersebut sehingga tujuan sebagaimana tertuan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalsel bisa tercapai,” lanjut wakil rakyat dari fraksi PPP itu dalam pemandangan umumnya terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2009 provinsi setempat. Sebagaimana amanat perundang-undangan, anggaran pendidikan di Kalsel yang terdiri 13 Kabupaten/Kota dan kini berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa itu, pada tahun anggaran 2009, mendapat alokasi 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi tersebut. Pengalokasian anggaran pendidikan itu sejalan pula dengan RPJMD untuk menciptakan Kalsel unggul dan maju pada tahun 2010, kata Fraksi PPP melalui juru bicaranya, Hj. Immah Norda dalam rapat paripurna DPRD setempat yang dipimpin Wakil Ketua Dewan, H. Bachruddin Syarkawi. Sementara Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Kalsel yang diketuai Karlie Hanafi Kalianda mengingatkan, dalam rangka merealisasikan anggaran pendidikan tersebut, pihak Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus menata sistem pembiayaan pendidikan yang berprinsip adil, efesien, efektif, transparan dan akuntabel. “Dalam pembiayaan dimaksud termasuk penerapan pembiayaan pendidikan berbasis jumlah siswa (student based financing),” pinta FPG melalui jubirnya H.Adrianopel Samudera. Selain itu, mengembangkan kurikulum, baik nasional maupun lokal yang disesuaikan dengan perkeembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan seni, serta perkembangan global, regional, nasional dan lokal, termasuk pengembangan estitika dan integrasi kecakapan hidup untuk meningkatkan etos kerja serta kewirausahaan peserta didik. “Diharapkan pula ada anggaran tambahan makanan untuk penambahan gizi pada anak-anak sekolah,” demikian wakil rakyat dari fraksi Partai Golkar tersebut. Sedangkan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel yang diketuai, H. Husaini Suni dan sekretarisnya Ibnu Sina menyarankan, agar anggaran pendidikan tersebut diprioritaskan untuk menuntaskan program wajib belajar (wajar) pendidikan sembilan tahun, peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik. Selain itu, peningkatan sarana dan prasarana pendidijkan, manajemen mutu pelayanan pendidikan, pembinaan pendidikan non formal dan informal, bantuan hibah untuk SD/MI, SMU/SMK/MA, serta program sekolah unggulan atau bertaraf internasional. Untuk itu, melalui jubirnya, Rudi Anwar Luthfi, Fraksi PKS mempertanyakan data ruang kelas yang kondisinya rusak atau memprihatinkan, dan berapa yang akan diperbaiki tahun 2009, serta bagaimana sharing dengan kabupaten/kota. Wakil rakyat dari PKS itu juga menanyakan, bagaimana program sertifikasi guru, berapa jumlah guru yang sudah dan belum bersertifikasi di Kalsel, dan apakah gaji guru akan ditingkatkan sesuai dengan standar baru yang diajukan Menteri Pendidikan Nasional. RAPBD Kalsel 2009 sebesar Rp1,6 triliun lebih terdiri pendapatan daerah Rp1.616.748.000.000,00 dan belanja daerah Rp1.606.450.000.000,00 sehingga diperkirakan akan mengalami surplus Rp10.298.000.000,00. Sedangkan alokasi anggaran pendidikan di Kalsel 2009 yang berasal dari APBD sebesar Rp320 miliar lebih. Namun, anggaran pendidikan itu tersebar pada sejumlah SKPD, tak cuma terkonsentrasi para Dinas Pendidikan provinsi setempat. (Ant)

Sumber: (http://jurnalnasional.com/?med=Web&sec=Breaking%20News&rbrk=Nasional&id=13268&stat=all&page=0)

November 1, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | No Comments Yet

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

November 1, 2008 Posted by yuwandafauzi | Uncategorized | | 1 Comment